MERAIHWAWASAN - Kalian sadar gak sih, kalau hampir seluruh barang, pakaian, aksesoris bahkan elektronik kita itu Made In China, bahkan China dijuluki "The World's Factory".
Ternyata Negeri tirai bambu ini memang menjadi pemasok paling besar di dunia, karena ekosistem bisnis yang kuat. Tapi apa alasan pastinya sehingga China mendapatkan julukan "The World's Factory" tersebut?
Tapi jangan khawatir teman-teman, dalam ulasan di bawah ini, kalian bisa mengetahui kenapa China bisa mendapatkan julukan "The World's Factory" yang tidak dimiliki oleh negara lain.
1. Ekosistem bisnis yang kuat
Seperti yang kalian diketahui, industri produksi tidak bisa berlangsung sendiri-sendiri, melainkan bergantung pada jaringan pemasok, produsen komponen, distributor, instansi pemerintah, dan pelanggan yang semuanya terlibat dalam proses produksi melalui persaingan dan kerjasama.
Ekosistem bisnis tersebut telah berkembang cukup banyak di China selama 30 tahun terakhir. Contohnya di Shenzhen, sebuah kota yang berbatasan dengan Hong Kong ini telah berkembang sebagai pusat industri elektronik.
Shenzhen telah mengembangkan ekosistem untuk mendukung rantai pasokan manufaktur, termasuk produsen komponen, pekerja berbiaya rendah, tenaga kerja teknis, pemasok perakitan, dan pelanggan.
2. Upah pekerja yang rendah
China merupakan negara terpadat di dunia dengan populasi penduduk sekitar 1,39 juta orang.
Hal ini yang membuat tenaga kerja di China sangat melimpah, sementara lapangan pekerjaan yang tidak dapat menampung semuanya.
Sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan, jika tenaga kerja banyak dan lapangan kerja hanya sedikit akan menjadikan upah para pekerja menjadi rendah.
Selain itu, mayoritas warga negeri ini merupakan kelas menengah ke bawah yang hidup di pedesaan.
China juga tidak mengikuti secara ketat undang-undang yang berkaitan dengan upah minimum pekerja, di mana hal ini yang lebih banyak dipatuhi negara barat.
Namun, situasi ini tampaknya berubah karena saat ini banyak provinsi di China melaporkan telah meningkatkan upah minimum daerahnya untuk mengikuti kenaikan biaya hidup sehari-hari.
3. Kurangnya kepatuhan hukum
Seperti yang kita bahas sebelumnya pabrik-pabrik asal China dikenal tidak mengikuti sebagian besar undang-undang dan pedoman dasar mengenai pekerja anak, pekerja paksa, kesehatan dan keselamatan pekerja, udang-undang upah minimum, dan perlindungan lingkungan.
Secara historis, banyak pabrik-pabrik China telah mempekerjakan anak-anak dibawah umur, menerapkan jam kerja yang panjang, dan tidak memberikan asuransi kompensasi kepada pekerja.
Beberapa pabrik bahkan memiliki kebijakan di mana pekerja dibayar setahun sekali sebagai sebuah strategi untuk mencegah pekerja berhenti sebelum akhir tahun.
Dihadapkan dengan kritik-kritik mengenai hal tersebut, pemerintah China mengklaim telah melembagakan reformasi yang melindungi hak-hak pekerja dan memberikan kompensasi yang lebih adil.
Namun, kepatuhan terhadap aturan di banyak industri rendah dan perubahan berjalan lambat. Selain itu, undang-undang perlindungan lingkungan secara rutin diabaikan, memungkinkan pabrik-pabrik China untuk mengurangi biaya pengelolaan limbah.
4. Diskon pajak bagi konsumen
Kebijakan pajak ekspor dimulai tahun 1985 di China sebagai cara untuk meningkatkan daya saing ekspornya dengan menghapuskan pajak berganda atas barang ekspor.
Barang ekspor dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) nol persen, yang berarti mereka menikmati kebijakan pembebasan PPN atau potongan harga.
Selain itu, produk konsumen dari China dibebaskan dari pajak impor apa pun. Tarif pajak yang lebih rendah ini membantu menjaga biaya produksi tetap rendah, memungkinkan negara untuk menarik investor dan perusahaan yang ingin memproduksi barang-barang murah.
Itulah beberapa alasan China dijuluki The World's Factory. Terlalu banyaknya permintaan barang, membuat pabrik akhirnya merekrut pegawai dari berbagai negara di Asia seperti Indonesia.

Tidak ada komentar
Posting Komentar